kebijakan perlindungan anak

CIPS tidak memberikan toleransi terhadap eksploitasi dan pelecehan anak. Berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia, kami memiliki tanggung jawab untuk mencegah semua aktivitas yang dapat menyebabkan eksploitasi dan pelecehan anak. Maka dari itu, kebijakan perlindungan anak ini dibuat sebagai kegiatan atau inisiatif untuk melindungi anak dari segala bahaya dan untuk menunjukkan komitmen kami dalam melindungi anak serta menjelaskan segala hal yang diperlukan terkait dengan perlindungan anak. Kebijakan ini membantu menciptakan lingkungan yang aman dan positif bagi anak dan dapat membuktikan bahwa organisasi ini menjalankan tugas dan tanggung jawab atas perlindungan anak secara serius. 

 

Cakupan

Kebijakan ini berlaku untuk:

  • karyawan permanen dan paruh waktu

  • karyawan sementara atau agen

  • pemagang

  • relawan

  • individu eksternal yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan CIPS

  • kontraktor, subkontraktor  atau penyedia layanan

 

Kata ‘pelecehan’ dalam kebijakan ini mengacu pada:

  • pelecehan fisik: penggunaan kekerasan fisik terhadap anak yang membahayakan anak tersebut. Perilaku pelecehan fisik termasuk mendorong, memukul, menampar, mengguncang, melempar, meninju, menendang, menggigit, membakar, mencekik, dan meracuni

  • penelantaran: kegagalan orang tua atau pengasuh untuk menciptakan kondisi yang secara budaya diterima sebagai kondisi yang penting bagi perkembangan dan kesejahteraan fisik dan emosional anak

  • pelecehan emosional: mengacu pada perilaku verbal atau simbolis yang tidak tepat bagi anak, atau pola kegagalan orang tua atau pengasuh dari waktu ke waktu dalam memberikan pengasuhan non-fisik dan ketersediaan emosional yang memadai bagi anak. Perilaku-perilaku tersebut kemungkinan besar akan merusak harga diri atau kompetensi sosial anak

  • pelecehan seksual: pemanfaatan seorang anak untuk tujuan kepuasan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa, anak yang jauh lebih tua, atau remaja

  • perlakuan buruk: upaya mendisiplinkan atau mengoreksi anak dengan cara yang sangat tidak pantas dan tidak masuk akal; membuat tuntutan yang sangat berlebihan dan/atau merendahkan seorang anak; penggunaan kekerasan terhadap seorang anak; dan/atau pola komentar atau perilaku yang tidak sopan, tidak masuk akal, dan sangat tidak pantas yang ditujukan kepada seorang anak.

 

Tindakan eksploitasi anak termasuk:

  • memaksa orang lain untuk melakukan tindakan pelecehan terhadap seorang anak

  • memiliki, mengendalikan, memproduksi, atau menyebarkan materi eksploitasi anak

  • menurut Undang-Undang (UU) Nomor 13 tahun 2003 Pasal 68 tentang ketenagakerjaan, pengusaha tidak diizinkan untuk mempekerjakan anak berusia di bawah 18 tahun. Namun dengan syarat dan ketentuan tertentu, ada pengecualian untuk mempekerjakan anak berusia antara 13-15 tahun. 

kontak

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

ikuti
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies