• CIPS Indonesia

Hari Pendidikan Nasional, Peningkatan Literasi Digital untuk Tambah Efektivitas Online Learning

Siaran Pers - Jakarta, Pandemi Covid-19 membawa perubahan yang signifikan pada dunia pendidikan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Perubahan yang signifikan ini adalah ditutupnya sekolah dan berpindahnya kegiatan belajar mengajar menggunakan platform digital atau online learning. Untuk meningkatkan efektivitas online learning, upaya meningkatkan literasi digital mendesak untuk dilakukan. Lebih jauh lagi, penguasaan literasi digital yang lebih baik diharapkan dapat meningkatkan kualitas siswa secara individu dan kualitas pendidikan nasional.

Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyebut urgensi meningkatkan literasi digital diperlukan karena penggunaan internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, salah satu hal yang transformasinya terakselerasi karena pandemi Covid-19. Peningkatan literasi digital dapat diartikan sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman tentang bagaimana menggunakan produk digital dengan penuh tanggung jawab dan mampu mengambil manfaat dan peluang dari informasi yang tersedia di internet. Pengguna internet harus dilengkapi dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk memaksimalkan manfaat dari kegiatan yang mereka lakukan pada platform digital. Upaya ini perlu dilakukan sejak dini, terlebih kini anak-anak juga sudah mulai menggunakan internet.

“Selanjutnya, anak-anak memang cukup cepat beradaptasi dengan teknologi. Namun mereka belum mampu dapat bersikap dewasa dalam mengonsumsi dan menggunakan konten yang ada pada platform digital. Banyak platform digital tidak dirancang untuk anak-anak dan minimnya batasan yang bisa mencegah mereka mengonsumsi konten yang tidak sesuai dengan usianya. Tanpa literasi digital yang memadai, anak-anak menjadi rentan pada konsumsi konten yang berbahaya, misinformasi dan tindak kejahatan siber lainnya,” ungkap Peneliti CIPS Nadia Fairuza.

Untuk itu, upaya peningkatan literasi digital perlu terintegrasi dengan kurikulum karena kemampuan literasi digital sangat dipengaruhi dengan kemampuan literasi baca tulis, yakni kemampuan membaca, menulis, mencari, menganalisis, mengolah dan membagikan teks tertulis. Dalam praktiknya, pendidikan Indonesia berfokus pada pendekatan pembelajaran yang kurang mengasah keterampilan berpikir kritis seperti menghafal dan mengerjakan soal-soal yang jawabannya dapat dengan mudah ditemukan di buku pelajaran tanpa melewati proses berpikir yang dalam. Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang ada di sekolah-sekolah juga belum optimal dalam meningkatkan literasi digital. Faktanya, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 37 Tahun 2016 tentang implementasi pembelajaran TIK lebih berfokus pada kemampuan peserta didik dalam mengoperasikan perangkat teknologi dan internet daripada kemampuan menganalisis dan memproses informasi yang didapat secara daring.

Nadia menjelaskan, metode belajar online learning atau yang juga disebut sebagai pembelajaran jarak jauh masih merupakan pilihan yang ideal untuk diterapkan di masa pandemi. Sejalan dengan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Nadia memandang kegiatan belajar tatap muka idealnya tidak dilakukan sampai menunggu turunnya angka penularan Covid-19 dan memperhatikan luasnya jangkauan vaksinasi yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta. Namun tidak hanya memprioritaskan vaksinasi, pemerintah perlu memperhatikan bagaimana sekolah dapat mengimplementasikan protokol kesehatan yang baik dan benar.

“Penutupan sekolah yang sudah berjalan lebih dari satu tahun membawa berbagai dampak bagi peserta didik, seperti hilangnya kemampuan peserta didik dalam belajar (learning loss), peningkatan angka putus sekolah (school dropouts), serta penurunan kesehatan mental mereka dan juga guru. Walaupun demikian, diharapkan bahwa guru dan siswa sudah semakin terbiasa dan dapat menyiasati keterbatasan yang ada tersebut, salah satunya lewat upaya-upaya untuk meningkatkan literasi digital,” jelasnya.

Beberapa hal dapat CIPS rekomendasikan untuk meningkatkan literasi digital. Yang pertama adalah perlunya koordinasi yang kuat antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) dalam menyusun kurikulum mata pelajaran TIK agar sesuai dengan tuntutan zaman. Ada baiknya apabila konten pembelajaran TIK lebih memprioritaskan pengajaran dalam penggunaan dan menyampaikan informasi yang didapat secara daring dengan bertanggung jawab, mengidentifikasi informasi daring yang dapat dipercaya dan cara mengamankan peserta didik selama aktivitas daring mereka. Kompetensi seperti ini akan sangat relevan dengan tuntutan era digital saat ini. Di sisi lain, upaya ini perlu diimbangi dengan keterlibatan orang tua dalam mengawasi anaknya. Ada baiknya Kemendikbud juga menjalin kerjasama yang komprehensif dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang memiliki berbagai inisiatif terkait dengan literasi digital seperti Siberkreasi.

Kurikulum ini harus diprioritaskan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menganalisis, mengevaluasi, dan membagikan informasi digital secara bertanggung jawab. Selain itu, penting pula membekali peserta didik dengan kemampuan untuk mengidentifikasi sumber informasi yang dapat dipercaya, kiat-kiat untuk melindungi diri mereka selama aktivitas daring mereka agar terhindar dari perundungan siber (cyberbullying), penipuan (online fraud), pelanggaran privasi (privacy breach) dan lain-lain.

Kedua, Kemendikbud dan Kemenag perlu mengevaluasi bagaimana berpikir kritis diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah. Kebiasaan seperti bekerja secara berkelompok dengan teman sekelas, memperbanyak porsi soal-soal latihan yang mengasah pemikiran kritis dan memupuk model pembelajaran yang mengutamakan kebiasaan bertanya, menganalisis dan menyatakan argumen dalam diskusi harus diperkuat sebagai pondasi dalam peningkatan literasi digital. Indonesia dapat mengambil contoh dari negara-negara yang sukses mengimplementasikan materi literasi digital dan menerapkannya dengan konteks lokal. Selanjutnya, materi literasi digital juga harus disertakan dalam pelatihan guru. Tanpa meningkatkan kompetensi TIK yang rendah dan pedagogi berpikir kritis di antara para guru, mereka tidak akan dapat berperan dalam meningkatkan literasi digital siswa.