• CIPS Indonesia

Indonesia Harus Manfaatkan Regional Value Chains RCEP Untuk Pengembangan Industri Bernilai Tambah

Siaran Pers - Jakarta, Perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang telah ditandatangani beberapa waktu yang lalu harus dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh Indonesia. Kawasan RCEP yang semakin terbuka dan memfasilitasi berkembangnya sistem perdagangan yang memanfaatkan Regional Value Chains (RVC) atau rantai nilai regional dari RCEP adalah peluang/kesempatan yang sangat baik bagi Indonesia untuk mendorong pengembangan industri manufakturnya di masa pemulihan ekonomi nasional serta di masa dan pasca pandemi COVID-19.


Kemampuan memasuki RVC RCEP akan membuka kesempatan lebih besar bagi Indonesia untuk terhubung dengan Global Value Chains (GVC) atau rantai nilai global. Dalam hal ini, kata kunci bagi Indonesia adalah mendorong masuknya investasi, baik dari luar (foreign direct investment atau FDI) maupun dari dalam negeri (domestic investment) ke sektor manufaktur yang dirancang memanfaatkan kawasan RCEP.

Senior Fellow Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Donna Gultom mengatakan, RCEP memang memberikan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan, namun pada saat yang bersamaan meningkatkan defisit perdagangan Indonesia dengan negara anggota RCEP lainnya. Untuk itu, dalam memanfaatkan RVC kawasan RCEP, Indonesia perlu memiliki/menyiapkan strategi berupa structural/policy adjustment yang dapat menggalakkan berkembangnya industri manufaktur yang tidak hanya memasok kebutuhan pasar dalam negeri Indonesia tetapi lebih luas lagi yaitu pasar negara-negara anggota RCEP dan non RCEP. Fakta bahwa sebanyak 6.050 pos tarif (barang dagang) Indonesia memiliki keterkaitan kuat dalam hal ekspor dan impor dari dan ke kawasan RCEP, merupakan kekuatan penting untuk Indonesia melangkah lebih maju lagi dalam memanfaatkan RVC kawasan.

Memang berbagai kajian telah dilakukan untuk memperkirakan dampak RCEP bagi Indonesia. Pada tahun 2016, saat RCEP masih dalam proses perundingan, kajian yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan (menggunakan GTAP), mengindikasikan bahwa meski RCEP mampu meningkatkan kesejahteraan Indonesia sebesar 1,52 milyar, namun konsekuensinya adalah terjadinya peningkatan defisit perdagangan sebesar US$ 491,46 juta. Lebih lanjut kajian yang dilakukan pada tahun 2019 oleh Kementerian Keuangan (menggunakan CGE model) menunjukkan bahwa dampak RCEP bagi perekonomian (pertumbuhan ekonomi) Indonesia tidak terlalu signifikan (0,05%). Namun bila Indonesia tidak bergabung, dampaknya juga tidak baik karena justru negative (-0,07%) bagi pertumbuhan ekonomi (GDP) Indonesia. Kajian yang dilakukan oleh Ekonom UNCTAD Rashmi Banga (menggunakan SMART Simulations in World Integrated Trade Solutions by World Bank and UNCTAD model), menunjukkan bahwa dampak RCEP tidak signifikan bagi ASEAN. Tambahan manfaat bagi negara anggota ASEAN hanyalah dari pemanfaatan RVC yang tentu akan terhubung dengan Global Value Chains (GVC).


Namun, lanjut Donna, tantangannya adalah bagaimana negara-negara ASEAN mampu membangun produsen dan eksportir yang efisien yang dapat mengimbangi efisiensi yang dimiliki oleh RRT. Namun kajian terbaru yang dilakukan oleh Peneliti CIPS Ira Aprilianti (menggunakan a stochastic gravity model), menunjukkan bahwa RCEP mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,67% serta berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia sebesar 7,2% yang dihasilkan dari spill-over effect dari free trade agreement (FTA) yang dimiliki anggota RCEP dengan Negara non-RCEP . Kajian ini juga menunjukkan bahwa dalam 5 (lima) tahun setelah implementasi, akan terjadi peningkatan investasi sebesar 18 – 22% serta peningkatan ekspor bisa mencapai 8-11% melalui perluasan peran Indonesia dalam Global Supply Chain.

“Isu trade deficit memang selalu menghantui Indonesia karena ada anggapan kalau nilai impor meningkat berarti industri dalam negeri terancam dan tidak baik bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Padahal meningkatnya impor tidak selalu berarti buruk bagi perekonomian suatu negara. Apabila impor dilakukan untuk mendorong produktivitas industri dalam rangka peningkatan nilai tambah di dalam negeri dipastikan akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu strategi Indonesia ke depan adalah memastikan impor menghasilkan nilai tambah melalui industri yang berkembang di Indonesia. Termasuk mendorong berkembangnya industri yang akan memasok produk antara (intermediate goods) yang pasti akan oleh industri manufaktur lanjutannya baik di dalam maupun di luar negeri (ekspor). Strategi seperti ini diharapkan akan mendorong Indonesia semakin memasuki pasar regional (RVC) RCEP dan pasar global (GVC),” jelasnya.

Lebih lanjut Ekonom UNCTAD Rashmi Banga (2020) juga mengatakan berdasarkan kajiannya bahwa saat RCEP mulai diimplementasikan, sebagian besar negara anggota ASEAN, khususnya Kamboja, Malaysia, Myanmar, Thailand, Vietnam dan Laos akan mengalami lonjakan impor yang mengakibatkan defisit perdagangan yang cukup besar. Mengomentari temuan ini, Donna menyebut hal ini kurang tepat. Bagi negara anggota ASEAN, RCEP bukan merupakan pembuka pasar yang baru karena ASEAN telah memiliki ASEAN-FTA dengan kelima Negara Mitra tersebut (ASEAN+1 FTAs). Namun bagi sesama negara mitra, misalnya antara Jepang dengan China atau Jepang dengan Korea, RCEP merupakan pembukaan akses pasar yang baru sehingga perkiraan lonjakan impor akan terjadi diantara mereka.

“Kata kunci dari keempat kajian tersebut apabila Indonesia ingin mendapat manfaat ekonomi yang nyata dari RCEP adalah pentingnya melakukan structural dan policy adjustment untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional, jelas Lead Negosiator Indonesia pada RCEP ini.

Donna lebih lanjut menyampaikan pandangannya tentang perlunya Indonesia mempersiapkan kebijakan yang mendorong masuknya investasi ke sektor industri yang berorientasi intermediate products. Hal ini akan mendorong Indonesia terhubung ke regional supply/value chain RCEP, bahkan ke global supply/value chain. Dengan demikian, meski industri yang tumbuh mengakibatkan meningkatnya impor, namun dapat dipastikan bahwa kinerja ekspor Indonesia juga akan meningkat, dan kekhawatiran akan meningkatnya defisit perdagangan tidak terjadi karena intermediate products yang dihasilkan pasti akan diekspor. Dalam hal ini, kontribusi tambahan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan dalam kerangka RCEP akan bersumber dari peningkatan nilai tambah.

Pembangunan perekonomian melalui pembangunan dan pengembangan daya saing dengan mendorong pertumbuhan sektor industri bernilai tambah dan berteknologi dalam konteks Revolusi Industri 4.0 perlu dijadikan prioritas secara nasional sebagai bagian dari pemulihan ekonomi dan masuk kategori mendesak agar permintaan dalam dan luar negeri, khususnya negara-negara RCEP dan kawasan sekitarnya yang diperkirakan akan meledak pasca pandemi COVID-19.


kontak

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

ikuti
  • CIPS LinkedIn
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian policy Studies resmi terdaftar
dengan nama Yayasan Cipta Sentosa

© 2021 Center for Indonesian Policy Studies