• CIPS Indonesia

Laporan Acara | Layanan Penitipan Anak: Jalan Dukung Perempuan Bekerja




Pada 30 Juli, 2020, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) berkolaborasi dengan Forum Kajian Pembangunan (FKP), mengadakan diskusi daring dalam format webinar. Pada kesempatan kali ini, webinar ini mengangkat tema “Layanan Penitipan Anak: Jalan Dukung Perempuan Bekerja”. Acara yang berlangsung di Zoom dan Youtube ini berhasil dihadiri oleh 100 lebih peserta dari beragam dari sektor pemerintah, swasta, organisasi masyarakat sipil, sampai akademisi.


Webinar ini dilatar belakangi oleh beberapa fakta, salah satunya rendahnya angka partisipasi perempuan Indonesia di dunia kerja masih rendah dibandingkan dengan negara di Asia Timur dan Pasifik (Bank Dunia). Salah satu alasannya adalah karena mereka lebih memilih untuk mengurus anak atau anggota keluarga lainnya pasca berkeluarga. Terlebih selama pandemi, perempuan yang kebanyakan bekerja dalam sektor informal semakin mempengaruhi keterlibatan perempuan dalam dunia kerja. Padahal, jika permasalahan partisipasi perempuan dalam dunia ekonomi mendapatkan perhatian yang lebih baik, pemulihan ekonomi dapat berjalan lebih cepat setelah pandemi berakhir. Oleh karena itu, untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam dunia kerja, CIPS yakin bahwa penyediaan fasilitas seperti penitipan anak, dapat membantu meningkatkan keinginan perempuan untuk bekerja.


Dalam diskusi daring ini, kami mengundang sejumlah pakar dan peneliti yang aktif melakukan penelitian dan pengamatan mengenai isu terkait. Mereka adalah, Ir. Agustina Erni, M.Sc dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Diahhadi Setyonaluri dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia, Daniel Halim dari Bank Duia, dan Nizma Fadila dari Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE).


Diskusi dimulai dengan presentasi dari Ir. Agustina Erni, M.Sc dari Kementerian Pemberdayaan Perempian dan Perlindungan Anak, yang membahas tentang kebijakan pemerintah dalam mendukung perempuan di angkatan kerja. Secara singkat, beliau menyampaikan bahwa tempat penitipan anak adalah sebuah prasyarat untuk dapat mendorong partisipasi perempuan dalam perekonomian negara. Terlebih, pemerintah sudah memiliki rencana untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam dunia kerja ke 55% pada tahun 2024. Terlepas dari permasalahan penitipan anak, beliau menyebutkan bahwa peran perempuan selama pandemi Covid-19 sangat vital. Selama pandemi, banyak laki-laki yang berperan sebagai kepala keluarga di-PHK dan kehilangan pekerjaannya. Para ibu rumah tangga ini kemudian berinisiatif untuk berjualan atau berdagang secara daring untuk menyelamatkan kondisi ekonomi keluarganya.


Paparan dilanjutkan oleh Diahhadi Setyonaluri dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia, yang menjelaskan tentang faktor yang memengaruhi partisipasi kerja perempuan. Dalam presentasinya, disebutkan bahwa pernikahan dan memiliki anak, merupakan faktor yang sangat memengaruhi partisipasi perempuan dalam dunia kerja. Selain itu, terdapat pula permasalahan pendidikan dan tempat kerja perempuan tersebut. Opsi kebijakan yang dari penelitan yang dilakukan Diahhadi adalah dengan mengurangi burden of care, dan salah satu caranya adalah dengan cara mempromosikan ke publik gender role yang seimbang antara perempuan dan laki-laki di rumah tangga. Tidak hanya itu, ketersediaan penitipan anak untuk mendukung orang tua sangat dibutuhkan agar kedua orang tua dapat bekerja.


Selanjutnya, Daniel Halim dari Bank Dunia, memaparkan penelitiannya tentang kaitan antara ketersediaan taman kanak-kanak dan partisipasi perempuan dalam dunia kerja di Indonesia. Beliau melihat bahwa ketersediaan fasilitas tersebut dapat mendorong partisipasi perempuan dalam bekerja. Hanya saja, ada beberapa faktor yang perlu digarishbawahi dalam hal ini. Pertama, ketersediaan taman kanak-kanak tidak serta-merta langsung meningkatkan partisipasi perempuan dalam dunia kerja. Terlebih, ada beban biaya tambahan yang perlu dipikirkan jika anak berpartisipasi dalam taman kanak-kanak. Kedua, permasalahan antara jam kerja dan jam belajar di taman kanak-kanak. Secara singkat, Daniel melihat bahwa jam belajar di taman kanak-kanak yang singkat membuat perempuan tidak dapat secara maksimal berperan dalam membangun perekonomian.


Diskusi dalam webinar ini ditutup dengan presentasi Nizma Fadillah dari Indonesia Business Coalition for Women Empowerment, yang menjelaskan tentang peran sektor swasta dalam mendukung partisipasi kerja perempuan. Melalui paparan singkatnya, beliau menyebutkan bahwa dalam soal pengurusan anak atau anggota keluarga lainnya, peran perempuan masih lebih dominan dibandingkan laki-laki akibat dari budaya yang telah terbentuk di Indonesia. Menurutnya, penyedian fasilitas semacam penitipan anak saja tidak cukup, perlu adanya kesadaran dari anggota keluarga lain terutama laki-laki atau kepala keluarga untuk mengedepankan konsep dalam rumah tangga. Pada dunia kerja, perusahaan juga perlu memerhatikan dan mengenali permasalahan domestik ini. Jika perusahaan dapat dengan baik mengedepankan isu kesetaraan gender dan mencoba untuk memfasilitasi perempuan di lingkungan kerja, perusahaan tersebut juga akan mendapatkan dampak positif, seperti meningkatknya angka perekrutan dan keragaman pekerja, serta produktivitas.


Presentasi para pembicara dapat Anda unduh di sini.


CIPS rutin menggelar webinar terkait ketahanan pangan dan agrikultur, pendidikan, serta kesejahteraan masyarakat. Daftar webinar selanjutnya di sini atau tonton rekaman webinar selanjutnya di sini.

kontak

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

ikuti
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies