• CIPS Indonesia

Siaran Pers | Diversifikasi Salah Satu Instrumen Capai Ketahanan Pangan

Siaran Pers - Jakarta, Head of Research Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Amanta mengatakan, diversifikasi pangan merupakan salah satu cara untuk mencapai ketahanan pangan atau food security di Tanah Air. Selama ini, pemerintah selalu fokus untuk mencapai swasembada pangan. Padahal swasembada bukanlah hal yang mudah dicapai mengingat banyaknya faktor pada sektor pertanian Indonesia yang tidak mendukung tujuan tersebut.

Ketahanan pangan adalah suatu kondisi dimana ketersediaan pangan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang untuk setiap saat dan setiap individu mempunyai akses untuk memperolehnya, baik secara fisik maupun ekonomi. Ketahanan pangan seringkali dikaitkan dengan ketersediaan pangan, stabilitas pangan dan juga aksesibilitas (keterjangkauan) oleh masyarakat. Ketiga hal inilah yang masih sulit diwujudkan oleh pemerintah.

“Keadaan Indonesia di masa sekarang sangat berbeda dengan Indonesia pada saat sukses mencapai swasembada pangan. Untuk itu pemerintah harus realistis dan melihat adanya kemungkinan untuk menggunakan pendekatan lainnya, salah satunya adalah diversifikasi pangan. Selain itu, sudah tentu dengan mendukung kebijakan perdagangan terbuka (open trade) untuk pangan sehingga masyarakat memiliki akses kepada pangan bergizi dengan harga terjangkau,” ungkapnya.

Felippa menambahkan, diversifikasi pangan bisa menjadi pilihan daripada hanya fokus pada satu jenis komoditas pangan saja. Namun diversifikasi pangan tidak akan terwujud kalau pemerintah tetap menjadikan swasembada sebagai tujuan utama. Hal ini dikarenakan masyarakat akan memilih komoditas yang tersedia dalam jumlah banyak. Penyediaan pangan, lanjutnya, kini tidak hanya soal memenuhi kebutuhan masyarakat saja. Penyediaan pangan kini juga termasuk bagaimana menyediakan pangan yang bergizi untuk masyarakat dan menciptakan rantai pasok pangan yang berkelanjutan untuk masyarakat.

“Rantai pasok pangan ini yang masih menjadi masalah di masyarakat. Rantai pasok pangan yang ada belum berkelanjutan sehingga seringkali menimbulkan kekisruhan seperti naiknya harga komoditas pangan karena komoditas tersebut tiba-tiba menghilang dari pasaran dan sulit didapat. Kelancaran supply chain juga perlu dipastikan, terutama di masa pandemic seperti sekarang ini, supaya tidak ada daerah yang mengalami kelangkaan pasokan kebutuhan pangan,” ujarnya.

Selain diversifikasi pangan, Felippa juga mengingatkan urgensi keterlibatan Indonesia dalam perdagangan pangan internasional. Perdagangan internasional tetap dibutuhkan, lanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Di saat yang bersamaan, masyarakat juga mulai diarahkan untuk beralih ke makanan alternatif yang terdiversifikasi. Hal ini penting karena Indonesia harus menjadi bagian dari global food market yang terintegrasi. Kalau Indonesia terus mengisolasi diri sendiri dengan program swasembada yang agresif dan berpotensi merusak lingkungan, maka hal tersebut akan merugikan petani dan masyarakat.

kontak

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

ikuti
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies