• CIPS Indonesia

Siaran Pers | Kemitraan IA CEPA, Jalan Peningkatan Akses Pendidikan Tinggi di Indonesia

Siaran Pers - Jakarta, Indonesia dapat memperluas akses kepada pendidikan tinggi bagi penduduknya dengan meningkatkan keterlibatan institusi pendidikan asing melalui kemitraan Indonesia Australia-Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).


“Kemitraan IA-CEPA sebaiknya digunakan untuk membangun powerhouse di sektor pendidikan tinggi demi menunjang perbaikan kualitas sumber daya manusia di Indonesia, sekaligus membawa manfaat ekonomi untuk kedua negara,” ujar Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Andree Surianta.


Data OECD di 2019 lalu memperlihatkan masih rendahnya tingkat akses kepada pendidikan tinggi di Indonesia, dengan hanya 16 persen penduduk Indonesia berusia 25-34 tahun yang mengenyam pendidikan tinggi dan hanya satu persen mahasiswa Indonesia yang belajar ke luar negeri.

Andree mengatakan Indonesia-Australia education powerhouse ini diharapkan dapat memperluas akses ini lewat reformasi kebijakan untuk meningkatkan keterlibatan institusi pendidikan asing dalam membangun sektor pendidikan di Tanah Air.


Menurutnya, salah satu tujuan dari IA-CEPA adalah meningkatkan potensi kerjasama ekonomi kedua negara lewat pendekatan powerhouse, salah satunya melalui investasi dalam sektor pendidikan tinggi di Indonesia.


Sementara pandemi Covid-19 mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia sehingga meningkatkan angka pengangguran dan semakin mempersulit akses ke pendidikan tinggi, di Australia, pandemi ini menyebabkan turunnya jumlah pelajar internasional disana. padahal pendidikan menjadi komoditas ekspor keempat terbesar negara kanguru ini, dan pendidikan tinggi berkontribusi sebesar 46 persen dari total nilai ekspor tersebut. Data Department of Education, Skills and Employment memperlihatkan penurunan kontribusi pendidikan tinggi kepada ekonomi Australia, mencapai tujuh persen menjadi AUD 37,5 triliun di tahun 2020.


“Pembangunan sumber daya manusia perlu dimulai dari pembukaan akses seluas mungkin kepada pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Untuk menarik lebih banyak universitas-universitas dari Australia untuk berinvestasi di Indonesia, selain menaikkan tingkat pendaftaran mahasiswa dalam negeri, sebaiknya juga dibuka kesempatan bagi mahasiswa dari negara lain untuk mengakses kurikulum pendidikan Australia di Indonesia,” terang Andree.


Ia menambahkan, kerjasama kedua negara dalam education powerhouse dibawah skema IA-CEPA juga berpotensi meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Indonesia, yang kini masih rendah seperti tercermin dari tidak adanya universitas di Indonesia yang mampu masuk ke daftar 200 universitas terbaik di dunia berdasarkan peringkat dari QS World Ranking 2021.


Masuknya universitas asing yang bermutu ke Indonesia selain dapat meringankan beban biaya hidup mahasiswa juga dapat mendorong peningkatan mutu pendidikan dan pelayanan universitas dalam negeri sedangkan mempermudah mahasiswa asing belajar di Indonesia akan memperbesar potensi pasar universitas lokal.


Penelitian CIPS merekomendasikan reformasi kebijakan di Indonesia untuk mendorong minat investasi di sektor perguruan tinggi dan memperluas akses bagi mahasiswa asing melalui penyederhanaan penerbitan visa pelajar. Malaysia, misalnya, kini termasuk 10 besar eksportir pendidikan tinggi dan menyambut lebih dari 100.000 mahasiswa asing setiap tahun sejak universitas asing diizinkan untuk beroperasi disana dan akses bagi mahasiswa asing dipermudah.


Andre mengatakan interaksi bilateral yang intensif dibawah IA-CEPA akan dapat membantu para pembuat kebijakan mengidentifikasi hambatan dalam berinvestasi di Indonesia.


“Hal ini penting untuk meminimalisir potensi kegagalan menarik investor sambil terus membenahi sektor pendidikan supaya menarik bagi investor dari negara lainnya,” tandasnya.


Ikuti diskusi terkait IA-CEPA untuk mendorong pendidikan di Indonesia di video berikut


4 tampilan