• CIPS Indonesia

Siaran Pers | Masih Resesi, Pertumbuhan Ekonomi Q4 Tunjukkan Peluang Pemulihan Ekonomi

Siaran Pers - Jakarta, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, pertumbuhan ekonomi Q4 tahun 2020 menunjukkan upaya pemulihan ekonomi sedang berjalan walaupun dengan pelan-pelan. Masih belum berhasil keluar dari resesi, tercatat bahwa ekonomi Indonesia masih terkontraksi dan berada pada level -2,19% (y-o-y). Walaupun demikian, angka ini menunjukkan adanya perkembangan dari kuartal-kuartal sebelumnya. Sepanjang tahun 2020, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi yang cukup tajam akibat pandemi Covid-19 hingga mengakibatkan resesi. Pertumbuhan ekonomi Q1 tahun 2020 dibuka dengan capaian di level 2,97%. Sedangkan pada Q2 tercatat kontraksi terjadi hingga ke level -5,32%. Kemudian angka ini berangsur membaik ke level -3,49% seiring dengan stimulus ekonomi dan kebijakan jaring pengaman yang digelontorkan oleh pemerintah dalam merespon disrupsi ekonomi bagi masyarakat.

Pingkan melanjutkan, jika dilihat dari sektor lapangan usahanya, hanya dua sektor saja yang mengalami peningkatan jika dibandingkan secara y-o-y dengan kondisi di Q4 tahun 2019. Kedua sektor tersebut ialah sektor informasi dan komunikasi yang bergerak dari 9,78% (Q4 2019) ke 10,91% (Q4 2020) serta sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial dengan pergerakan dari 7,83% (Q4 2019) menjadi 16,54% (Q4 2020). Hal ini sangat relevan dengan dinamika yang terjadi di masyarakat selama pandemi. Kebijakan pembatasan sosial yang diberlakukan di daerah-daerah di Indonesia per bulan Maret 2020 silam telah mendorong adanya adaptasi kebiasaan baru bagi masyarakat. Kegiatan pendidikan, perekonomian, ibadah, hingga bekerja pun bertransformasi ke arah digitalisasi, sektor informasi dan komunikasi menjadi tumpuannya. Selain itu, sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial juga terdongkrak seiring dengan semakin banyaknya kasus positif Covid-19 dan masyarakat terdampak yang tercatat di Indonesia.

“Pemerintah perlu memperhatikan sektor-sektor yang mengalami peningkatan pertumbuhan dan mendorong supaya sektor-sektor tersebut bisa terus berkontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi. Untuk sektor informasi dan komunikasi misalnya, pemerintah perlu mendorong terciptanya ekosistem yang kondusif untuk semua pelaku di sektor tersebut melalui regulasi yang adaptif dan memperhatikan dinamikanya. Di saat yang bersamaan, upaya untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan sektor-sektor lain yang masih terdampak terus dilakukan,” jelas Pingkan.

Di luar sektor tersebut, pergerakannya cukup dinamis dan bervariasi. Kebanyakan masih terkontraksi, tiga sektor terendah ialah transportasi dan pergudangan (-13,42%), akomodasi dan makan minum (-8,88%) dan sektor jasa perusahaan (-7,02%). Secara umum, perbaikan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia di Q4 2020 terjadi bagi sebagian sektor yang mencakup industri pengolahan; perdagangan; serta pertanian, kehutanan, dan perikanan.

“Penggunaan protokol kesehatan perlu terus dijalankan pada sektor-sektor yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal ini sangat penting untuk memastikan berjalannya kegiatan sekaligus menjaga keselamatan para pekerja. Capaian pertumbuhan yang diharapkan mungkin tidak akan tercapai dalam waktu yang singkat tapi setidaknya konsistensi untuk mempertahankan kinerja perlu terus dijalankan,” tambahnya.

Dari segi konsumsi, pengeluaran masyarakat masih terpantau terkontraksi di level -3,61% (y-o-y). Pada Q4 2019, angka ini berada pada level 4,97%. Penurunan terjadi di sepanjang tahun 2020 dan diperparah oleh situasi pandemi yang mengakibatkan meningkatnya angka pengangguran maupun kelompok masyarakat rentan. Walaupun demikian, tampak ada perbaikan secara perlahan dari Q2 (-5,52%) dan Q3 (-4,05%). Pingkan memperkirakan, penghentian Bantuan Subsidi Upah untuk pekerja dapat memengaruhi tingkat konsumsi masyarakat di tahun 2021. Untuk meminimalisir dampak menurunnya daya beli tersebut, Pingkan mengatakan pemerintah perlu memastikan ketersediaan kebutuhan pokok supaya tidak ada kelangkaan yang menyebabkan kenaikan harga, misalnya saja untuk komoditas pangan. Beberapa komoditas pangan mengalami kenaikan sejak awal tahun 2021, seperti daging sapi dan kedelai.

Pemerintah telah memberikan beragam intervensi untuk upaya pemulihan perekonomian nasional sepanjang tahun 2020. Lebih jauh dari itu, akar permasalahan dari kontraksi perekonomian nasional kita ada pada pandemi Covid-19. Kebijakan penanganan dan pencegahan Covid-19 perlu terus ditingkatkan dan diupayakan oleh seluruh elemen pemerintah dari pusat hingga daerah. Masyarakat juga perlu ambil bagian dengan menaati protokol kesehatan yang ada serta meminimalisir mobilitas sosial selama pandemi. Saat ini Indonesia masih mendistribusikan vaksin, namun bukan berarti tugas pemerintah selesai dan lantas masyarakat yang sudah divaksin menjadi abai terhadap pola hidup baru dalam menanggapi pandemi ini. Jika pemerintah tidak berfokus pada upaya penanganan Covid-19, langkah-langkah yang ditempuh untuk pemulihan ekonomi pun menjadi sia-sia.

kontak

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

ikuti
  • CIPS LinkedIn
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian policy Studies resmi terdaftar
dengan nama Yayasan Cipta Sentosa

© 2021 Center for Indonesian Policy Studies