• CIPS Indonesia

Siaran Pers | Potensi Kenaikan Harga Beras Perlu Segera Diantisipasi

Siaran Pers - Jakarta, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania menyatakan, pemerintah perlu segera mengantisipasi adanya potensi kenaikan harga beras. Melihat data harga beras yang dikeluarkan oleh BPS, titik kenaikan harga selalu tampak di saat permintaan meningkat seiring dengan datangnya perayaan hari raya dan libur nasional.


Jumlah stok sebanyak 1,1 juta ton saat ini tidak hanya menandakan lebih rendahnya stok dibanding tahun 2019 yang berjumlah 2,24 juta ton, namun juga lebih rendah dibandingkan dengan stok beras 2018 sebanyak 2,19 juta ton. Walaupun demikian, jumlah stok beras saat ini masih lebih tinggi kalau dibandingkan dengan stok tahun 2017 yang tercatat sebanyak 900.000 ton. Jika melihat perbandingan yang kurang lebih sama dengan keadaan di tahun 2017, Indonesia harus dapat mengantisipasi ketersediaan beras, tidak hanya untuk menghadapi libur akhir tahun akan tetapi juga menghadapi kebutuhan tahun 2021.

“Laporan Indeks BURT (Indeks Bulanan Rumah Tangga) yang rutin dikeluarkan oleh CIPS setiap bulannya menunjukkan harga beras kualitas medium sejak Oktober memang terpantau stabil tinggi di kisaran Rp 12.500 per kilogram. Namun, harga ini berpotensi untuk mengalami kenaikan jelang Natal dan Tahun Baru 2021.” Ungkapnya.

(Video Penjelasan Indeks Bu RT)


Seperti yang kita ketahui, tidak mencukupinya jumlah stok akhir di tahun 2017 akhirnya memaksa pemerintah untuk melakukan importasi beras hingga sebanyak 2,25 juta ton di sepanjang tahun 2018 atau sejumlah US$ 1,03 miliar, berdasarkan data BPS. Peluang berulangnya keadaan seperti ini di tahun 2021 seharusnya sudah diantisipasi sesegera mungkin. Galuh mengatakan, perhitungan akan impor harus dikalkulasikan sedini dan seefektif mungkin untuk menghindari kerugian akibat tingginya harga beras dan panjangnya birokrasi impor. Selain panjangnya proses birokrasi impor, Indonesia juga perlu mewaspadai maraknya perilaku proteksionisme akibat pandemi Covid-19.

Menurut WFP, selama pandemi Covid-19, harga beras dunia tercatat mengalami kenaikan dikarenakan adanya stockpiling behavior atau perilaku menimbun yang dilakukan oleh masing-masing BUMN pangan negara-negara di dunia dan adanya penutupan ekspor untuk memenuhi produksi domestik setiap negara. Laporan Indeks BURT CIPS di Bulan November 2020 mencatat bahwa setiap keluarga di Indonesia dapat menghemat pengeluaran hingga Rp 224.000 jika harga pangan Indonesia sama terjangkaunya dengan harga di negara-negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura.


Karena tidak hanya mengamati beras, BURT juga mengamati komoditas penting lain seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah, yang nyatanya pada bulan November terus mengalami kenaikan dari bulan-bulan sebelumnya. Kenaikan harga tidak hanya disebabkan oleh permintaan yang meningkat, tapi juga dipengaruhi oleh terganggunya produksi akibat curah hujan yang meningkat dan juga potensi gangguan impor sejumlah komoditas. Hal serupa juga dapat terjadi pada beras.

Pandemi Covid-19 terjadi pada tahun di mana produksi komoditas sereal global sedang melimpah dan mendekati rekor tertinggi karena kondisi cuaca yang mendukung. Data FAO 2020 juga memprediksi bahwa produksi beras dunia diperkirakan mencapai 509,2 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat 1,7% dari tahun sebelumnya. Pasokan beras dunia lebih dari cukup untuk menutupi permintaan global dengan rasio stok terhadap penggunaan 35,3%.

Sementara itu pada pasokan beras nasional, data Kementerian Pertanian 2020 menunjukkan produksi beras nasional diperkirakan berjumlah sekitar 16,8 juta ton atau lebih rendah 9,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, melanjutkan tren penurunan sejak 2018. Galuh melanjutkan, meskipun ketersediaan lebih dari cukup untuk menutupi permintaan domestik di semester pertama dengan surplus 6,4 juta ton, terdapat kekhawatiran pasokan beras menjelang akhir tahun dan awal tahun depan karena musim kemarau biasanya hanya menyumbang 35% untuk produksi tahunan, berdasarkan data WFP 2020.


kontak

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

ikuti
  • CIPS LinkedIn
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian policy Studies resmi terdaftar
dengan nama Yayasan Cipta Sentosa

© 2021 Center for Indonesian Policy Studies