• CIPS Indonesia

Siaran Pers | RCEP Buka Peluang Masuknya FDI dan Pengembangan Digital Economy

Siaran Pers - Jakarta, Penandatanganan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) membuka banyak peluang untuk para anggotanya, tidak terkecuali Indonesia. Salah satu peluang yang bisa dijajaki adalah investasi dan pengembangan ekonomi digital. Hal ini tidak berlebihan mengingat perjanjian ini diharapkan akan mendorong tumbuhnya foreign direct investment (FDI) di sektor industri baru yang potensial memanfaatkan ruang lingkup kawasan RCEP yang berjumlah 2,2 miliar manusia dan selanjutnya kawasan global (regional and global supply chain). Bila hanya mengandalkan industri dan pebisnis yang ada, peluang RCEP tidak mungkin dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Senior Fellow Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Donna Gultom mengatakan, untuk memanfaatkan ruang lingkup kawasan RCEP dan global secara maksimal, negara yang akan mampu memanfaatkan peluang ini adalah negara yang memiliki rezim investasi dan ketersediaan /dukungan infrastruktur yang lebih menguntungkan bagi para investor. Apabila dikaitkan dengan perkembangan industri akhir-akhir ini yang mengarah ke otomasi dan Revolusi Industri 4.0, terlebih setelah mengalami pandemi COVID-19 yang hingga kini belum usai, investor akan melirik negara anggota RCEP yang paling siap dalam pengembangan 4th Industrial Revolution dan perdagangan e-commerce.

Pernyataan ini diperkuat oleh Ekonom Senior United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) Rashmi Banga yang berpandangan bahwa ASEAN mempunyai peluang di sektor industri digital sehingga upaya meningkatkan daya saing dapat memaksimalkan manfaat RCEP. Sebagaimana yang disepakati dalam Bab Electronic Commerce bahwa pemerintah masih tetap memiliki ruang untuk kebijakan dalam mengelola kebijakan pengembangan industri ini, khususnya apabila terkait sektor publik. Keberhasilan negara mengembangkan ekonomi digital yang juga memberi peluang bagi UMKM (usaha kecil, usaha pertanian, individu-individu kreatif dari pelosok manapun) dan bagi berkembangnya factory sharing economy yang akan membuat negara seperti Indonesia mampu mencukupi kebutuhan pasar RCEP yang berjumlah 2,25 miliar manusia.

“Sebagaimana direkomendasikan oleh berbagai studi terkait dampak RCEP bagi perekonomian Indonesia, dimana Indonesia perlu segera menyiapkan dan mengimplementasikan policy atau structural adjustment agar Indonesia dapat memanfaatkan peluang RCEP secara maksimal di masa yang akan datang. Pemerintah sangat menyadari bahwa kunci keberhasilan dalam memanfaatkan peluang RCEP bagi kemajuan perekonomian Indonesia adalah peningkatan daya saing nasional yang berdampak pada daya saing industri nasional yang sudah ada dan pada daya tarik lingkungan investasi untuk menarik masuknya investasi yang bergerak di sektor industri berorientasi digital dan Revolusi Industri 4.0,” jelasnya.

Lead Negotiator Indonesia dalam perjanjian RCEP ini juga mengatakan bahwa RCEP justru membuka kesempatan bagi seluruh anggotanya untuk berlomba mengembangkan industri yang dirancang untuk memanfaatkan RCEP (1 Negara vs 14 Negara). Apalagi kalau dikaitkan dengan pandemi yang belum dapat diprediksi kapan akan berakhir serta tekanan ekonomi dunia yang diakibatkan oleh pandemi, hampir dapat dipastikan bahwa industri yang memiliki potensi besar dalam RCEP untuk dikembangkan adalah industri yang berorientasi digital dan berorientasi Revolusi Industri 4.0. Demikian halnya dengan transaksi perdagangan, tidak dapat dihindari lagi bahwa transaksi perdagangan, baik ekspor maupun impor akan dilakukan melalui elektronik atau e-commerce.

Oleh karena itu, kata kunci untuk memastikan RCEP bermanfaat bagi Indonesia, selain peningkatan daya saing dari industri, adalah memastikan masuknya investor, baik dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) di sektor riil industri manufaktur, khususnya indutri berorientasi digital dan berorietasi Revolusi Industri 4.0. Untuk itu, investor yang telah menguasai dan mengetahui pengembangan regional supply/value chain yang menjanjikan akan memasuki negara dengan kondisi infrastruktur konektivitas (fisik maupun regulasi) yang sudah dan siap terhubung dengan kawasan RCEP dan global. Menurut Peneliti CIPS Ira Aprilianti, peningkatan investasi akan signifikan (18-22%) 5 (lima) tahun setelah RCEP diimplementasikan.

Langkah tersebut sangat sejalan dengan dan merupakan momentum dalam upaya pemulihan ekonomi dalam jangka panjang yang harus dijalankan secara sungguh-sungguh, cerdas, komprehensip dan berkesinambungan. Pandemi COVID-19 ini harus menjadi turning point bagi Indonesia agar langkah-langkah pemulihan ekonomi ke depan merupakan langkah yang bersifat menopang pada pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang dapat membawa Indonesia ke level perekonomian yang lebih baik.

Pembangunan perekonomian melalui pembangunan dan pengembangan daya saing dengan mendorong pertumbuhan sektor industri bernilai tambah dan berteknologi dalam konteks Revolusi Industri 4.0 perlu dijadikan prioritas secara nasional sebagai bagian dari pemulihan ekonomi dan masuk kategori mendesak agar permintaan dalam dan luar negeri, khususnya negara-negara RCEP dan kawasan sekitarnya yang diperkirakan akan meledak pasca pandemi COVID-19.


kontak

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

ikuti
  • CIPS LinkedIn
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian policy Studies resmi terdaftar
dengan nama Yayasan Cipta Sentosa

© 2021 Center for Indonesian Policy Studies